Negeri Tiga Matahari

Jadi cerita ini rencananya mau gue lombain. Tapi, malah ngumpulinnya lewat batas tenggat waktu pengumpulan. Deadliner emang 😦 Aku post di sini saja hahaha

NEGERI TIGA MATAHARI. 

Oleh: Adelia Sri Wartami/Institut Teknologi Bandung

Katanya, bila mimpimu tidak sampai membangunkanmu sebelum matahari menjulang di balik raksasa biru, berarti mimpimu tidaklah besar.

Subuh itu, aku yang orang-orang bilang seperti kebo ini bangun sangatlah cepat, lebih cepat dari ibu-ibu penjual sayur di pasar, termasuk bapak supir angkutan umum yang membawa ibu penjual sayur ke pasar, bahkan nyamukpun tidak sampai jadi menggigit kulit  betisku karena gerak cepatku menuju kamar mandi. Ya, di hari itu, dan juga di hari-hari sebelumnya, aku sangatlah bergairah. Bukan karena habis menang olimpiade, bukan pula karena sedang jatuh cinta. Hari itu, untuk pertama kalinya aku akan menapakkan kaki dan menghirup udara tempat almarhum kakak nenekku merantau dan membangun peradaban. Palu, Sulawesi Tengah.

Bagi orang minang sepertiku, merantau adalah lumrah yang dilakukan oleh sebagian pria bahkan wanita untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Pepatah minang berkata, nan satitiek jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadikan guru. Artinya, yang setetes jadikan laut, yang segenggam jadikan gunung, alam terkembang jadikan guru.  Tidak heran bila di hampir setiap sudut Indonesia ada orang minangnya. Begitu pula kakekku itu, merantau ke kota yang sangatlah jauh dari tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Pekerjaannya adalah pegawai negeri, yang ditugaskan menjadi guru sekolah dasar di Tinombo, suatu daerah sejauh 7 jam perjalanan darat dari Ibukota Palu.

Garis keluarga ayah dan ibuku hampir semuanya adalah perantau. Jakarta, Medan, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Ambon, Sorong, Kupang, dan kota-kota lain, hampir semua kota di Indonesia ini lengkap. Ayahku sendiri merantau ke Bandung. Hingga lahirlah aku, kakakku, dan adikku. Kami semua memiliki nama belakang Wartami (warga tabek Minang), agar tertanam di hati kami bahwa sebenarnya kami orang Minang, bukan orang sunda. Alhasil kami semua tumbuh mengaku sebagai orang minang, tapi logatnya sunda.

Aku berangkat ke Palu sesungguhnya bukan dengan tujuan ingin melihat-lihat kota Palu. Tujuanku pergi ke Palu sebagai delegasi BEM untuk mengikuti suatu acara musyawarah nasional mahasiswa farmasi seluruh Indonesia. Karena sejarah keluarga yang kuceritakan tadi, Palu termasuk dalam catatan mimpiku yang harus tercapai before death come. Akhirnya kucoba melakukan apapun agar ongkos pergi ke Palu terkumpul. Kukabari orang tuaku, nenekku, paman-pamanku, tante-tanteku, agar mendapat dukungan financial. Kukabari pula saudara-saudaraku di Palu bahwa aku akan mengunjungi mereka dalam waktu dekat. Mereka sangat senang mengetahui ada keluarga dari Bandung yang akan berkunjung.Ya, tentu mereka senang

—–Beberapa minggu kemudian, perpisahan di bandara————–

Detik-detik itu, setelah haru biru salam perpisahan dengan seluruh saudaraku, sadarlah aku akan sesuatu. Benar yang diceritakan ibuku. Tentu saja mereka senang aku datang. Karena tidak ada satu orangpun kerabat yang pernah berkunjung ke tempatnya. Aku yang pertama.

————————————————————

Perjalanan menuju Sulawesi Tengah cukup melelahkan, walau sebenarnya aku hanya duduk-duduk saja. Sejak berada di pesawat, hawa-hawa kota Bandung lenyap sudah. Tetangga di kursi depan, belakang, kanan, kiri, semuanya berlogat Bugis Sulawesi, khas sekali terdengar, bahkan adik kecil yang duduk di depan bangkuku pun sudah sangat kental logat bugisnya, lucu sekali aku mendengarnya karena telingaku yang terlanjur nyunda.

Pesawat transit di Makassar. Langit cerah menyambut kedatangan singkatku di bandara Sultan Hassanudin. Orang Makassar turun semua, termasuk adik kecil tadi, diganti dengan orang asli Palu, bersama dengan teman-teman farmasiku dari berbagai kota di Indonesia, pindah ke pesawat yang aku tumpangi karena transit juga di Makassar. Semakin Palu suasana di dalam pesawat, karena sepertinya orang-orang tersebut hendak pulang kembali ke kampungnya di Palu setelah jalan-jalan di Makassar, terlihat dari barang bagasinya yang bercirikan oleh-oleh khas Makassar. 1 jam perjalanan dari Makassar, dari atas pesawat kulihat daratan berwarna hijau, cokelat dan abu-abu. Warna hijau itu pepohonan, warna coklat itu sepertinya gunduk-gunduk pasir, sementara warna abu-abu itu aku tidak tahu apa, mungkin bekas abu vulkanik? Entahlah, yang pasti suasana kering itu terlihat. Beberapa menit kemudian pesawat yang kutumpangi landing. Saatnya aku turun dari pesawat. Baru 1 menit aku menapakkan kaki ini di Bandara Sis Al Jufri Palu, kulitku langsung menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan mengeluarkan peluh keringat. Amboi, suhu kota ini fantastis sekali. Selamat datang di Negeri 3 Matahari.

Setelah mengambil koper dan oleh-oleh Bandung untuk sanak saudaraku di Palu, aku disambut oleh beberapa mahasiswa dari Universitas Tadulako. Selfie dululah aku di bandara ini, juga meminta LO untuk memotret diriku. “Sudah betul?”, ujar mahasiswa Tadulako itu. “Hah? Betul…?” Ujarku dalam hati. Aku jadi merasa tidak enak karena seolah-olah foto yang dihasilkan harus seperfect itu. “Gak apa-apa kok mbak, ini juga sudah bagus”. Beberapa hari menginap di Palu barulah kusadar bahwa maksud betul di Palu itu artinya Mantap/Bagus/Oke!. Hal serupa yang kuamati selain itu adalah penggunaan kata saya, hanya dengan bilang sa tanpa ya. Lalu ba yang artinya imbuhan ber-. Ternyata bahasa Indonesia versi sunda dan minang berbeda dengan bahasa Indonesia versi Palu.

Musyawarah nasional mahasiswa farmasi seluruh Indonesia ini dilaksanakan selama 8 hari 7 malam. Aku tidak sekamar dengan orang Sulawesi sih, aku sekamarnya dengan Imas dari Jawa, Aas dari Tasikmalaya, dan Luthfiya dari Kalimantan. Logat medok, nyunda, nyunda keminang-minangan, dan Kalimantan yang tidak berlogat menyatu lucu di kamar kami menginap. Apalagi saat rapat berlangsung, seluruh mahasiswa farmasi berbagai daerah di Indonesia berkumpul di satu ruangan. Semakin pintar otakku menebak-nebak daerah asal mereka, cukup dengan mendengar logatnya saja. Ada yang keras, lembut, hingga mendayu-dayu. Perjumpaan singkat yang sangat berkesan. Kutulis sepucuk kalimat ini pada caption instagramku, sebagai ungkapan betapa bersyukurnya aku menjadi bagian dari mahasiswa farmasi Indonesia:

Musyawarah Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia. Kami mengenali, belajar, bermimpi. Adat dan budaya melebur, perbedaan bukan masalah. Emosi, kecewa, tertutupi oleh harapan yang besar. Jangan sampai kita hidup santai mati selow, ya? Terimakasih banyak, kakandaku dan adindaku. Memorinya sangat terekam baik di kepala ini sampai susah move on.

Di sela-sela Munas, aku bertemu dengan sanak saudaraku. Mereka rela menempuh perjalanan 7 jam hanya untuk bertemu denganku. Terharu. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan tante Jut, tante Neng, tante Butet, kak Aci, Upik, Indah, Bintang, Kak Angga, Kak Wati, Om Jang, Nayla, Kak Dian, Fatna, Kak Mizwar, dan saudara-saudara wartami cabang Palu lainnya. Malam itu, aku dibawa keliling-keliling kota Palu. Mulai dari Jembatan Kuning kebanggaan masyarakat Palu yang membelah teluk Palu menjadi 2 bagian, dilanjutkan dengan makan-makan santai di pinggir pantai. Orang Palu bilang minuman itu saraba, menurutku itu sih bajigur, kalo di Jawa itu sih wedang jahe. Untuk makanannya, sepupuku Fatna mengajakku makan Kaledo. Kaledo adalah semangkok besar daging dan lemak sapi yang masih menempel bersama tulangnya. Disajikan panas-panas, ditambah bawang goreng khas Palu dan nasi seporsi bapak-bapak, membuatku kalap. Mengetiknya saja sudah bikin aku ngiler.

7 malam aku tidur tidak teratur, mataku yang berkantung semakin berkantung. Namun panitia Munas ternyata seperhatian itu, di hari terakhir sebelum kembali ke Bandung, aku mengunjungi primadonya Palu. Pantai Tanjung Karang. Terletak di sebuah daerah bernama Donggala, berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Palu. Persediaan tenagaku yang sudah banyak terkuras, terbayar sudah di akhir cerita. Pernahkah kamu jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku pernah. Lebih kurang perasaan seperti itu yang kurasakan ketika melihat pesisir pantai Sulawesi ini. Rasanya seperti ibu yang 10 tahun tidak bertemu putri kandungnya. Perasaan suntukku hilang seketika. Ombaknya santai sekali, tenang. Dan yang paling kusuka, pantainya sepi. Sejauh mata memandang hanya ada kami, anak-anak Munas, dan beberapa orang bule. Untuk pertama kalinya aku snorkeling, biasanya aku tidak tertarik snorkling karena kondisi pantai di pulau Jawa tidak ada yang berhasil menggodaku untuk snorkeling. Terumbu karang, bingkai gunung di batas antara ujung pantai dan matahari terbenam, laut yang hijau dari kejauhan, sangat jernih dan bening saat ditapaki. Entah karena aku orang gunung yang udik melihat pantai pasir putih nan hijau, entah memang Pantai Tanjung Karang ini bikin orang udik karenananya. Subhanallah

Keesokan harinya aku pulang ke Bandung. Wartami cabang Palu sebagian sudah kembali ke Tinombo, setelah menitipkan oleh-oleh khas Palu, kue-kue buatan Tante Jut, dan beberapa amplop untukku dan nenekku. Bukan surat, isinya lembaran kertas kakap dari Bank Indonesia, hehe. Terimakasih banyak tante Jut, Tante Neng, Tante Butet. Pesawat take off. Kali ini suasana Bandung yang terasa, isi pesawat orang Bandung yang habis berlibur semua. Tidak ada lagi hawa-hawa panas, kaledo, pantai hijau, saraba.

Banyak hikmah yang kudapat dari kunjunganku ke Palu. Ini salah satunya.

Pernahkah kamu disuruh dosenmu untuk pergi ke luar negeri? Aku pernah. Betul, tujuannya adalah untuk melihat dunia, karena di luar sana teknologi sudah canggih, gedung-gedung megah, pendidikan yang mungkin lebih baik. Aku pernah mendapat kesempatan itu. Lantas setelah membandingkannya dengan kunjunganku ke Palu, apakah aku semakin mendukung dosenku itu? Ya, dosenku benar, kita memang sudah seharusnya mengunjungi negeri orang untuk melihat dunia, karena dengan cara itu, kita baru bisa menghargai negeri sendiri. Bila katanya Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, maka Indonesia diciptakan ketika Tuhan sedang tertawa bahagia. Pantai ada, gunung ada, bukit, sungai, danau, adakah alam apa yang negara lain punya, namun tidak dimiliki negara kita? Negara ini kaya. Kaya sekali.

Semut di ujung pulau terlihat, gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Palu menyadarkanku banyak sekali keindahan Indonesia yang tidak tampak ke permukaan. Pak Soekarno bilang, biarlah kekayaan alam kita tersimpan sampai nanti putra putri Bangsa mampu mengolahnya sendiri. Aku bagian dari putra-putri Indonesia. Mungkin saja aku atau kamu ditakdirkan Tuhan untuk mewujudkan cita-cita bapak Soekarno. Saat ini yang dibutuhkan hanya kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, mata yang menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekat yang seribu kali lebih kuat dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang lebih sering berdoa by: 5 cm. Bukankah mutiara didapat bila berani terjun di lautan yang dalam? Semangat, aku dan kamu, generasi muda Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s