Ketidakwarasan

Suara adzan membangunkan hening. Diantara penyesalan dan keegoisan, mengapa selalu 2 hal ini? Aku berdiri seorang diri, ya, selalu seorang diri. Lari telanjangpun tak akan kau hampiri

Muak! Muak sekali

Apakah aku sedang bermimpi? Kapan aku akan bangun?

Aku terkurung dalam lubang hitam. Tak ada pintu keluar. Gugup. Mengapa gugup? Apa ada gangguan di jantungku? Bukan. Gangguan itu dari sini. Dari hati yang paling dalam. Dalam diam, dalam kemunafikan

Apalah arti menahan diri? Bila tangan ini masih selalu menulis namanya. Apalah arti menahan diri? Bila mata ini selalu ingin melihat wajahnya. Apalah arti menahan diri? Bila telinga ini selalu senang mendengar salamnya. Apalah arti menahan diri? Bila bibir ini selalu ingin bercerita tentangnya

Aku berusaha taat peraturan-Nya. Kau lebih taat lagi

Jurang itu, aku dan ketidakwarasan

Kau senang organisasi, aku senang bernyanyi

Kau pintar menulis, aku pintar bercerita

Kau pembicara, aku pendengar paling setia

Kau penggerak, aku pengikut. Dalam bayang. Dalam ketidakpastian

Untuk kau, yang ahli menanam luka. Untunglah aku ahli mengobati luka

Senyummu. Foto-foto lelang itu. Kemustahilan terbesar diantara ribuan cita-cita. Kapan aku bangun? Tolong bangunkan aku. Khayalan indah ini terlalu sakit

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s