#1 Peka dan Perasa

Assalamualaikum Wr Wb

Bicara tentang hati manusia. Ada satu fitrah perempuan yang sebenarnya aku sendiri gak suka tapi di sisi lain yang gak kalah besarnya, sifat ini juga sangat menolong: Peka dan Perasa. Misal, seorang anak perempuan bisa saja belanja jilbab trendy tiap minggunya andai saja tidak memikirkan perasaan ortunya yang susah payah mencari nafkah untuk pendidikannya, bukan untuk gaya2an.

Di sisi lain, terkadang, menjadi orang perasa itu berarti siap membodohi diri sendiri, dengan mengorbankan peran untuk menstabilkan sistem. Misal, seorang ibu muda dengan latar belakang pendidikan mumpuni rela meninggalkan pekerjaan kantorannya demi memberi perhatian khusus dan ASI ekskulisif kepada bayinya selama 2 tahun.

Dalam kehidupan berkelompok, menurut pengalamanku, suatu kelompok tanpa orang perasa di dalamnya akan baik-baik saja, asal setiap individu di dalamnya dewasa dalam berfikir.

Menurut pengalamanku juga, suatu kelompok yang mana seluruhnya adalah orang perasa justru bukanlah kelompok yang baik. Keputusan pendapat dalam kelompok akan sangat sulit untuk didapat karena terus mempertimbangkan antara memenangkan ego pribadi atau perasaan teman masing-masing.

Contohnya, seorang teman sebut saja namanya dianita janjian dengan temannya yang bernama Adel. (loh jadi gak disensor? hehe?).

Dianita dan Adel keduanya adalah perempuan dengan feeling. Saat itu pukul 9 pagi, Adel sedang ngelab dan dianita sedang mengurus urusannya (lupa beb, wkwk). Dianita dan Adel janjian via line untuk bertemu pukul 10.00. Adel buru-buru menyelesaikan urusannya agar bisa selesai pukul 10.00. Setelah semua urusan selesai tepat pukul 10.00, Adel kemudian mengecek line, lohe? kok si dian gak ngechat apa-apa? Adel berfikir, oh mungkin dia belum beres urusannya. Sampe pukul 10.30, dianita tak kunjung ngechat, sehingga Adel berspekulasi kalo Dian masih sibuk dengan urusannya sehingga jangan diganggu dulu. Jadilah Adel membantu temannya yang lain yaitu Najmi bagi-bagi nasi di depan GKU timur sampai jam 11.30. Selesai bantu Najmi, Adel kembali melihat line, ternyata ada pesan dari dianita pukul ±11.00.

“Del, di mana? Aku nunggu di musholla SF.”

Adel langsung pergi ke musholla SF. Sesampainya di sana, Dian bilang bahwa dirinya udah nunggu dari jam 10.00 :((

Ya, beginilah yang akan terjadi bila dalam suatu kelompok terdiri dari individu yang saling peka dan berujung pada kesalahpahaman. Padahal tidak ada salahnya saling ngeline untuk menerror, andai saja perasaan tidak enak itu tidak dimiliki salah satu diantaranya. Saling menunggu namun tidak saling tahu. Sad 😦

Kesimpulannya adalah, orang perasa tidak bisa selamanya bersama dengan orang perasa lagi. Bukan karena tidak cocok, namun tidak saling melengkapi. Orang tidak perasa boleh jadi bersama orang tidak perasa lagi, asal keduanya dewasa dalam berfikir (tidak ada yang keras kepala). Dan orang peka dan perasa, akan lebih baik bila bersama dengan orang yang tidak peka dan tidak perasa (dalam batas yang gak kelewatan juga sih wkwk), walau terkadang menyebalkan tapi justru yang seperti ini yang bisa melengkapinya.

Post ini adalah post pertama (#1) dari rangkaian cerita absurd semester 8. Sebenernya ingin #throwback kenangan bareng si beb dian sebelum berangkat ke Jepang. あなたがいなくて寂しいです (pake google translate, bener kagak? wkwk). Tunggu rangkaian cerita selanjutnya besok! Hehe (moga ada yang baca selain u sis (ilma). wkwk.

1488807655268

P.s: Muka lu udah cukup gelap beb di sini, gak usah disensor lagi yak wkwk.

Wassalamualaikum Wr Wb

Advertisements