#4 I restarted my LINE account twice

Assalamualaikum Wr Wb

Ini dia bagian yang paling berkesan di semester 8. Hahaa. Dengan tulisan ini, aku siap dijudge apapun oleh kamu yang senang menjudge. Semoga diantaramu ada yang bisa mengambil sisi baiknya.

Yes, sesuai judul, semester 8 ini aku ngerestart line sampai 2x, wkkwwk. Selain itu, tanggal 17 agustus kemarin, aku putusin buat archive semua foto instagram menyisakan 1 buah foto pantai. Di instagram juga aku ngeunfollow ratusan akun baik itu akun teman, kenalan, artis kampus, artis instagram, sampe artis ibu kota. Dan terakhir aku mendelete ratusan followersku, kecuali teman dekat dan saudara.

Tapi di post ini aku bakal sharing tentang pengalaman restart LINE dulu ya, hahaa.

20170819_151037

Bukan, bukan karna aku dikejar-kejar utang.

Bukan pula karena gangguan fans dan haters.

ALASAN PERTAMA:

Adalah karena keberadaan timeLINE sebagai salah satu fitur dari LINE. Gak ada yang salah dari kehadiran fitur ini. Setahun 2 tahun berlalu, its okay, gak ada masalah apa-apa. Privacy setiap posting curhatan masih berlaku hanya untuk teman saja, hingga pada akhirnya, muncullah fitur LINE terbaru di mana setiap postingan bisa dishare secara PUBLIC.

Awalnya aku terkagum-kagum dengan mereka yang berani mempublic pandangan mereka hingga dilike & share ratusan hingga puluh ribuan orang. Woww.. leh uga..kerenn..kece yah dia..

Itu awalnya. Lama-lama (maaf) aku  rada-rada geleuh….

Aku ikut organisasi eksternal dan posisiku sebagai contact person yang harus menjalin silaturahim dengan banyak orang. Ditambah dengan himpunanku yang sempat ikut suatu lomba yang menuntut jumlah likers sehingga aku harus menjapri bukan hanya temanku yang sudah jadi friend, tapi juga teman satu grup yang belum aku jadikan friend.

Settingan friendsku sudah kubentuk agar tidak diadd orang sembarangan hanya dengan menyimpan nomor HPku atau karena berada dalam satu grup yang sama, melainkan aku sendiri yang harus mengadd akun mereka melaui QR code atau ID Search.

Setelah menjadi pengguna LINE selama 3,5 tahun, jumlah friends lineku saat itu sebanyak ±1500-2000 orang dengan ±20-30 grup aktif. Angka friends ini murni aku yang ngeadd sendiri karena telah kusetting seperti itu.

Alhasil, notifku selalu penuh (notifmu juga pasti gitu, kan?). Bukan karena orang mencariku, tapi karena aku join grup yang mana isinya orang-orang yang terlampau senang bersosialisasi. Dan sialnya aku senang membaca. Waktuku habis untuk diam di depan HP, dari bangun hingga kembali tidur.

SEBELUM settingan public itu muncul, aku yang agak ekstrovert ini hampir tiap hari post stiker lucu2 di timeLINE beserta captionnya, apalagi kalo bukan buat curhat, hehee. Begitu pula teman-temanku. Dan ini menurutku merupakan hiburan sendiri. Bajak membajak gitu kan, curhat, its ‘still’ okay.

SETELAH settingan public itu muncul, mulailah terjadi penurunan moral anak bangsa kebaikandari  LINE yang selama ini aku dapatkan. Yang selalu muncul di timelineku dan sangat menarik untuk dibaca setiap harinya adalah mereka yang senang mempublic opini berbau politik seperti mengkritik rektorat, pemerintah, walikota, hingga yang saat itu yang sedang panas-panasnya, kritik untuk salah satu cagub/cawagub suatu provinsi. Menambah pengetahuanku tentang politik, sedikitt kwkwkw.

Sebelumnya mohon maaf bila ada yang tersinggung, tapi izinkan aku untuk bertanya satu hal mengganjal yang selalu ingin komen setiap kali seseorang posting tentang politik bangsa ini di aplikasi LINE:

Pertanyaanku: Mengapa kalian memilih berkoar-koar di LINE padahal pihak yang bersangkutan yang dikritik itu bahkan gak punya akun LINE?

Saranku: Mungkin lain kali tulisanmu itu bisa kamu kirim ke opini masyarakat di koran, atau setidaknya dishare di Facebook dan Kompasiana yang kini mayoritas sudah diisi oleh orang tua. Mungkin orang tua itu bisa menyalurkannya ke rekannya yang duduk di kursi pemerintahan.

Pesanku: Tak usahlah berkoar-koar di medsos untuk dipandang intelek, kawan. Dengan status mahasiswa saja ditambah mahasiswa ITB pulak, itu sudah cukup menjadikanmu intelek di masyarakat umum.

Tapi aku bersyukur masih ada mahasiswa yang berada dalam koridor yang benar, berani turun ke jalan, bertemu langsung dengan pemerintah, mengadakan rapat terbuka, dll. Ini baru namanya talk less do more. Walau ini bukan gue banget……. err…..

Dan aku bersyukur pula masih ada yang pengguna LINE yang senang berbagi kebermanfaatan. Masih ada yang terus mengingat hadist “BERKATA BAIK ATAU DIAM”.

ALASAN KEDUA:

Saat semester 6, aku memutuskan untuk tidak memaketkan internet di HPku. Harapannya adalah, produktivitasku meningkat, bahkan aku bisa berhemat sampai 100ribu/bulan, dan saat waktu sudah lengang aku bisa luangin waktu untuk baca chat2 mereka, kan sekarang di mana-mana ada WiFi, pikirku yang saat itu masih terlalu NAIF.

Namun.. ternyata aku salah.

Walau aku selalu berada di kampus sampai magrib, sayangnya, saat itu orang lebih senang kumpul di LINE daripada ketemu di kampus. Banyak informasi yang tertinggal selama aku tidak buka HP, termasuk salah satunya urusan kerja kelompok akademik.

Salah memang, berurusan dengan teman sekelompok yang tidak punya prinsip kerja ikhlas. Dengan teganya, tanpa meminta penjelasan dariku terlebih dahulu, aku langsung dicap yang aneh-aneh. Awalnya aku bodo amat sama judgers seperti ini. Namun, yang bikin aku sedih adalah, ah sudahlah….. :’) Mungkin mereka gak tau dan menolak untuk mencari tau tentang yang sebenarnya terjadi, juga mereka menolak untuk merasakan seberapa downnya aku setiap praktikum dimulai.

Kesimpulannya adalah:

WiFi ONLY IS THE WORST DECISION I’VE EVER MADE.

!!!Jangan pernah coba ini sekalipun di saat urusanmu sedang banyak!!!

Di akhir semester 7, dengan berakhirnya masa kepengurusan BP himpunan, dengan tujuan menyelesaikan masalah yang sama yaitu memperbaiki produktivitas hidupku yang acak, aku memutuskan untuk merestart LINEku dari 0. Berhubung tanggung jawabku di himpunan sudah beres, ditambah dengan aku akan memasuki semester 8, di mana matkul Tugas Akhir II penentu kelulusanku dimulai. Saat itu pastinya butuh manajemen diri yang sangat baik agar bisa lulus tepat waktu.

Aku pun restart lineku dari awal. Namun aku salah pilah pilih grup mana yang harus aku join ulang.

Tetot!!! Salah total. Apa bedanya? Notifku tetap penuh.

Alhasil ±1 bulan kemudian kembali aku restart lineku. Hehehee…

Hingga sekarang temanku <100 orang, dengan grup aktif <10. Hidupku indah~ :’D

Dengan aku merestart LINE, hanya mereka yang benar-benar membutuhkan yang akan menghubungiku di LINE. Betul betul? ^^

Dannn. Sudah berjalan >6 bulan sejak aku merestart LINEku, aku sama sekali tidak menyesal atas keputusanku kemarin. Not at all ^^

Dulu kalo dulu aku diamkan HP sebentar di rush hour notifku sudah sampai 999++. Sekarang tidak, aku tidak minat samsek untuk kembali ke grup lamaku dulu yang isinya gosip, main, dan hal-hal nirfaedah lainnya. Sekalipun diinvite aku decline. Wkwkwk. Hidupku lebih produktif dengan teman yang mendukung.  IPku pun naik, walau IPK segitu2 aja (sad).

Dan sekarang aku sangat2 berterimakasih kepada beberapa Official Account yang menjunjung kebermanfaatan, bukan sekte haters atau fans dari salah satu kubu.  Sehingga setiap kali buka timeLINE, yang kulihat ada sesuatu yang berfaedah, bukan hanya emosi dalam tulisan.

Sebenarnya ini masalah pribadiku yang sulit mengendalikan diri. Lebih tepatnya sulit untuk fokus. Ada cerita menarik buka, ada postingan kating yang kece, baca sampe akhir, ada nasihat petuah jumlahnya 2 halaman, aku baca juga ampe akhir. Kacau

Wkwkwwk

Sekian deh, kesimpulannya adalah: jika kamu merasa hidupmu tidak produktif, coba cek seberapa sering kamu buka media sosial. Karena ini masalah anak muda zaman sekarang. Btw, kemarin aku baru aja naik kereta dari gambir. Pas lagi nunggu kereta maju, ada kereta lewat di sebelah pelan-pelan mau parkir. Busett..!! di kereta sebelah itu nih ya, dari gerbong 1 sampai gerbong terakhir, aku liat dengan mata kepala sendiri, semua orang main HP!!! Sad.

Sekian, dariku yang mulai menghargai waktu (tapi tidak menuhankan waktu).

Wassalamualaikum Wr Wb

Advertisements