Aku Hilang

You asked me why I pushed myself to write…………….

  1. Aku punya mimpi yang menuntut keberanian.
  2. Di dalam keramaian diriku akan menghilang. Di kala sendiri aku akan kehilangan diriku. Apalagi bila tidak menulis. Aku akan semakin hilang.
Advertisements

#6 Menemukan Alasan di Farmasi (Part Terakhir)

Apakah kamu sadar/menemukan apa kesalahan besarku di tulisanku yang sebelumnya ini?

Kesalahanku adalah, pola pilihanku yang bergerak dari atas ke bawah. Bukan dari bawah ke atas. Pilihanku bergerak dari memilih universitas, kemudian mencari jurusan. Bukan memilih jurusan kemudian mencari universitas mana yang terbaik.

Kesalahan ini cukup fatal, btw… Selama 4 tahun kuliah aku bertemu dengan beberapa orang dengan pola pilihan yang sama sepertiku, siapa sangka, sebagian dari mereka ikut sbmptn di tahun ke 2, sebagiannya lagi memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktunya di jalur non akademik, dan sisanya mencari alasan untuk bertahan.

Pilihan no 1 : Ikut SBMPTN di tahun ke 2

Yang kupercayai adalah selama sudah istikharah, apapun pilihan yang dipilih itu sudah final dan sudah yang terbaik karena keputusan bukan di tangan kita tapi sepenuhnya diserahkan ke Yang Maha Mengetahui segalanya. Gak ada lagi yang namanya salah jurusan.

Pilihan no 2 : Menghabiskan banyak waktu di kegiatan non akademik

Pilihan untuk aktif di akademik ataupun di non akademik tidak ada yang salah. Tapi fyi, melihat profil tokoh-tokoh berpengaruh dunia saat ini, cukup membuka pikiranku bahwa sukses gak selamanya bergantung pada who you are and what  you have done on your past. Mau nilai bagus prestasi selangit alumni kampus X ikut kegiatan ini itu jadi ketua sana sini wouldn’t define who you are in the future. Sesuatu yang harus diingat yaitu: Roda akan selalu berputar……..

An Nahl ayat 23 : “Sesungguhnya Dia (Allah SWT) tidak menyukai orang yang sombong”

Mari buang jauh-jauh rasa bangga terhadap apa yang telah dimiliki sekarang. Salah satu cara termudahnya yaitu dengan menghapus akun instagram.

Pilihan no 3 : Mencari alasan untuk bertahan

IMG_4011

Mencari alasan untuk bertahan di jurusan farmasi ini. Hmm, kalo bicara sebagai farmasis yang udah kenal betul seluk beluk farmasi, kapasitasku belum sampai untuk bicara sampai sini. Beres apoteker insya Allah bakal kuulas keprofesian ini sedalam-dalamnya, ya. Doain cepet lulus jadi apoteker makannya, hahaha. Tapi kalo bicara sebagai mantan mahasiswa farmasi, alasanku bertahan cuma 1.

Remember why you start!!!!

Mungkin dulu aku gak tau farmasi itu kayak gimana. Ditambah dengan aku tidak punya kenalan bahkan keluarga tidak ada yg pernah berkecimpung di dunia farmasi.

Hingga akhirnya, Tugas Akhir (TA) di semester 8 ini, mengalihkan dan mengembalikan duniaku :’)

Aku memilih Farmakologi sebagai fokus KK TA.  Di saat temen-temenku gak suka farmakologi, aku suka mata kuliah ini, lebih tepatnya, nilaiku cuma bagus di matkul ini!! wkkwkwkwkwk. Biarin aja ngelawan arus, justru untuk jadi expert, caranya itu ya menguasai apa yang orang lain gak bisa!

Motivasi utamanya adalah sesimpel karena aku sepengen itu bisa jawab keluarga ataupun masyarakat yang bertanya “Adel, kalo sakit XX obatnya apa ya?”. Aslii…… jadi farmasis itu berguna banget buat banyak orang, kawan-kawan..

Kalo kamu nyeletuk, “Del, maneh kan STF! Bukan FKK”. Ortuku ingin aku masuk STF, dan kalo aku masuk FKK mungkin kemarin aku gak bakal dipertemukan dengan Pak Andre dan gak bakal bisa neliti topik Farmol Basah (farmakologi yang mainannya laboratorium).

Judul Tugas Akhirku:

Pembuatan dan Uji Aktivitas Sediaan Alergen dari Ekstrak Daging Kepiting Bakau Hijau (Scylla serata)

Campuran Farmakokimia dan Farmakologi dengan bumbu-bumbu farmasetika wkwkwk. Motivasi milih topik alergi sebagai topik tugas akhir adalah karena ayahku, satu dari dua orang yang paling berjasa di kehidupanku ini sakit alergii. Dan metode diagnosis alergi yang ayahku ini jalani cukup mahal untuk rangkaian metode yang cetek-cetek itu. Mahal karena barangnya diimport dari luar negeri dan belum ada industri/klinik yang mengembangkan formulanya di Indonesia.

Dan aku mencoba untuk mengembangkan formulanya pas TA kemarin dan kesimpulan dari TAku ini adalah… alergen yang aku buat itu punya aktivitas sebagai kit untuk diagnosis alergi!! ^^

Kembali flashback kisah 4 tahun yang lalu. Di mana aku memilih farmasi with no strong reason dan menyerahkan seluruhnya kepadaNya. Mimpiku saat SMP dan passionku saat SMA cukup menjadi alasan kuat untukku bertahan di farmasi ini. Kalo kamu belum baca posting sebelumnya klik ini.

Passionku jadi wirausaha. Walau lahir dan besar di Bandung namun darah minang yg sarat perdagangan mengalir deras di darahku (lebay wkwk). #anaknyasemuaorangpadang

Aku ingin punya laboratorium klinik, yang bisa diagnosis ini dan itu khususnya tes alergi berhubung aku udah dapet formulanya hahahaha, tapi basisnya sosial. Dengan demikian, gak ada lagi masyarakat yang namanya garuk garuk gak enak, kaligata, syndrom stephen johnson, dan sakit-sakit lainnya yang alasannya karena tidak sempat diagnosis ke lab yang mahal itu.

Kamu pasti tau kitabisa.com? NAH AKU PENGEN JADI KAYAK ABANG FATIH TIMUR INII.. doain plis.. Bismillahirrahmanirrahim…… Semua ini gak bisa aku kejar kalo aku belum lulus apoteker.

5811f98c6cad5-muhammad-alfatih-timur-kitabisa-com_641_452

Thank you tugas akhir 8 SKS, thank you semester 8, thank you farmakologi, thank you all!!! Btw, aku masih ada antrian postingan lagi satu lagi, tunggu ya diketik dulu! Bukan bagian dari rangkaian semester 8 beda lagi hehe. wait2 (maaf terlalu kalo terlalu cerewet/banyak omong ._. )

#5 Menemukan Alasan di Farmasi (Part 1)

Assalamualaikum Wr Wb

Dann. Ini akhir dari rangkaian keabsurdan semester 8. Yeayyy!!

Menemukan alasan di farmasi, setelah hampir 4 tahun kuliah, wkwkwkwkw. Setelah bertanya tanya dan berharap menemukan jawabannya dari tingkat 1, akhirnya aku menemukannya di akhir tingkat 4, wkwk. Alhamdulillah.

Kalo dulu kamu bertanya mengapa aku memilih farmasi?

Jawabannya adalah………… tidak tahu. Benar-benar gak tau.

Tahun 2013. Pendaftaran SNMPTN.

Prinsipku adalah selalu berdoa ditempatkan Allah di tempat yang terbaik untukku dan orang tuaku, dan selalu berusaha mengenyampingkan keinginan sendiri berhubung masa depan ada di tanganNya dan sukses masa depan bukan aku yang menentukan.

And here I am. Sekolah Farmasi ITB. Umurku saat itu sekitar 17 tahun dan hampir selama 17 tahun pula gak pernah terpikir suatu saat akan jadi anak farmasi.

Tahun 2010. Masuk SMA.

Kala itu, aku adalah anak bingung tapi senang bermimpi. Bahkan dari sebelum masuk SMA aku udah punya mimpi bakal kuliah di mana.

UI atau UNPAD harga mati!!!

Dari kecil mimpiku adalah pandai bicara depan orang banyak, wkwkwkwkwk. Bukan karena aku merasa bisa bicara depan banyak orang, justru kebalikannya, karena gak bisa! FIKOM atau Hubungan Internasional adalah mimpiku sejak SMP.

Tahun 2011. Banting Setir.

Aku sekolah di tempat yang kelas IPSnya paling bagus sebandung raya. Aku minta izin ke ortu buat masuk jurusan IPS karena pengen masuk UI. Sudah kuduga-duga. Gak diizinin, wkwk. Akhirnya aku milih jurusan IPA. Dengan iming-iming kesempatan anak IPA yang bisa berkhianat masuk ke jurusan IPS semakin membuatku ikhlas masuk jurusan IPA. Sorry guys do not mean dulu emang secetek itu jalan mikirnya, wkwwkkwkwk.

Di tahun yang sama, kakakku, yang cuma beda 2 tahun denganku, lagi belajar abis-abisan biar bisa masuk univ yang dia pengen, pilihan satunya yaitu ITB. Tiap sabtu minggu ke edulab (nama bimbel) sampe nginep segala. Buset.

Dalam pikiranku waktu itu, “Niat banget dah, ITB kan laki, bukan buat perempuan” (kakakku itu perempuan)

Entah bulan Mei atau bulan Juni di tahun 2011 tersebut, pengumuman bersejarah itu keluar, kakakku diterima di SAPPK ITB!!!!!

Sebagai adik yang sama-sama perempuan, yang selalu menapaki jalur akademik yang gak jauh berbeda dari TK sampe SMA, dan yang selalu dibanding-bandingkan, ditambah dengan  nama ITB yang menjadi sedikit lebih keren dari UI atau UNPAD di telingaku dan keluargaku, sumbu api keambisan itupun mulai terbakar sedikit demi sedikit.

Pokoknya,aku, juga harus bisa masuk ITB!!!

WKwkwkwkwkwkw

Kembali ke tahun 2013. Pendaftaran SNMPTN.

Eureka adalah kegiatan pengenalan kampus ITB oleh para alumni SMA 5 yang sedang kuliah di ITB. Rangkaian acaranya yaitu adalah touring kampus ITB ganesha!! Yeayy!! Main-main seharian di ITB, ngeliat gedung-gedung fakultas, sekre himpunannya, kegiatan-kegiatan mahasiswanya, kantin, dll. Dan untuk setiap prodi ada perkenalannya dari kakak-kakak ITB.

Ohiya, aku seantusias itu sama touring ini!! Hehe. Berhubung pengen masuk ITB tapi galau luar biasa mau masuk jurusan apa, padahal, itu udah bulan Januari dan pendaftaran SNMPTN sudah akan dibuka. Sebelum touring di mulai, isi doaku adalah:

“Ya Allah kalo jurusan itu berjodoh denganku semoga diklopkann.. aamiin.. udah bulan Januari..”

Touring dimulai dari fakultas di sebelah Barat. Kala itu rombongan kami melewati suatu himpunan mahasiswa yang di depannya waktu itu ada patung kertas gitu kayaknya kepala orang pake topi insinyur terus ada garis-garisnya. Kakak tour guide bilang itu jurusan sipil fakultasnya FTSL.

Oh sipill…. Apaan ya itu sipil? Abang tour guidenya ngejelasin sih, tapi aku gak ngerti ngomong apa. Lagian, aku gak peduli juga.. Soalnya.. tetiba aku menjadi merasa klop sama jurusan ini!!! Jatuh cinta pada pandangan pertama dan merasa doa sudah dikabulkan. Sip. Case solved. SNMPTN nanti aku bakal milih FTSL. Membuatku menjadi gak terlalu merhatiin abang-abang tour guide di fakultas-fakultas lain, termasuk farmasi (sad) wkwkwk.

Aneh banget emang waktu itu. Wkwkwkkwk

Maret 2013. Mengisi formulir SNMPTN.

Di bulan ini bener-bener seadrenaline itu. Aku yang tadinya mau daftar FTSL memilih mundur karena kata kakakku sipil itu fisika. Bye FTSL!

Kalo boleh jujur, aku pengen banget masuk SBM….. berhubung di SMA aku nemuin passion menjadi wirausaha mulai dari jualan binder, donat Jco, yogurt, dll sampe lupa udah danus apa aja. Tapi…….. you know lah, gak enak ngomong sama ortu…. :’)

Akhirnya, nemu jurusan Teknik Industri dan MRI yang katanya prodi baru di FTI, gak fisika2 banget, bahkan jadi kayak SBM gitu belajarnya (katanya). Oke aku daftar sini aja!!!! Tapi, aku milih untuk mundur, karena masih berpikir realistis, temen-temenku yang juara kayak Alm. Rubi, Faan, Acung, Ayunda, yang juara umum itu udah daftar FTI. Err…..

Pada akhirnya, deadline daftar pukul 00.00. Aku submit jam 23.57. Horor dan mencekam!!!

Pilihan 1 : Sekolah Farmasi ITB

Dulu pas kelas 11, beres ketemu mentorku yaitu teh Gilang (FKK 2009), malemnya aku mimpi tentang Farmasi isinya aku lupa apa yang pasti sedikit tertanam dalam pikiranku suatu hari nanti dunia farmasi itu akan berpengaruh dalam hidupku, namun sama sekali gak terpikir bakal jadi mahasiswi farmasi, wkwkwk. Ditambah dengan awal bulan November 2012, saat itu sedang bulan ramadhan, aku kena Tipes T_T 8 hari di rumah sakit membuatku kenal obat-obatan. Bermodalkan seneng kimia, biologi, dan matematika aku daftarkan SF ITB jadi pilihan 1. Sudah istikharah berkali-kali dan apapun pilihanku nanti itu yang terbaik and i chose this.

Pilihan 2: FTSL, wkwkkwwkkwkwkw

Masih penasaran apa maksud Allah membuatku klop dengan jurusan sipil pas touring kemarin. Siapa tau ternyata diterima di pilihan 2.

Pilihan 3: Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Menjadi Dokter. Ibuku ingin salah satu anaknya ngerti kesehatan. Tidak aku pilih menjadi yang pertama, berhubung harapanku adalah: kuliah di tempat yang terbaik bagiku dan orang tuaku. Bisa jadi kedokteran ini terbaik bagiku, tapi tidak bagi orang tuaku. Biaya kuliah kedokteran yang terkenal mahal dan lama sudah cukup menjadi alasan utamaku untuk lebih memilih ITB. Toh, menjadi anak farmasi pun akan mengerti kesehatan, walau dengan aplikasi ilmu yang berbeda dengan jurusan kedokteran.

Pilihan 4: Gak milih apa-apa lagi, aku cuma milih 3.

Mei 2013. Pengumuman SNMPTN.

“Sekarang fokus buat belajar  SBMPTN, jangan berharap SNMPTN!” Pesan ibuku berkali-kali yang malah membuatku jadi spartan. Alhasil, saking spartannya aku kena tipes 😥 (bercanda).

“Hah yakin kamu daftar ITB kayak si tatri? Udah, jadi guru bahasa inggris aja kayak papa, atau kalo mau ITB daftar yang peminatan itu aja” Said my father 😥 Papaku adalah orang yang paling bikin aku gak PD daftar ITB, cara belajarku emang gak kayak kakakku yang sampe nginep di bimbel segala, tapi gak berarti aku lebih bego juga keli 😥 kin marah, wkkwwk. Tapi, candaan ginian yang justru paling bikin meledak, wkwkwk. Siapa bilang gak bisa.

Siang itu, di hari pengumuman SNMPTN, aku ke edulab (tempat bimbel) dengan tenang dan tanpa beban. Bermodalkan kepercayaan diri bahwa aku gak bakal diterima, kkwkwkw, aku PD aja keli belajar sbmptn, gak ngarep deh diterima snmptn. Hari itu, aku belajar sbmptn seperti biasa, dengan hati tenang.

BOONG.

Jam 13.00, situs pengumuman SNMPTN dibuka. Udah.. di rumah aja, hihihihi. Kataku dalam hati. Dan ½ jam kemudian, aku langsung buka HP!! Wkwkwwkw. Masukin nama dan tanggal lahir.

KELUAR YANG IJO-IJO!!!!! SF ITB!!! SELAMAT!!!!!!!

Orang pertama yang aku telpon adalah kakak. Setelah itu papa. Wkkwkwwkkwkwkwkw.

Sori isi tulisannya gak menjawab judul, tapi ini harus diceritain supaya bisa nyambung ke bagian selanjutnya. Wkwkw.

20170827_091014

This is me with my older sister (right) and my younger brother (left). Tinggi tidak menentukan umur. Thanks. Hahaa. Jahim day on my graduation!!!

Bersambung ke Part 2.

#4 I restarted my LINE account twice

Assalamualaikum Wr Wb

Ini dia bagian yang paling berkesan di semester 8. Hahaa. Dengan tulisan ini, aku siap dijudge apapun oleh kamu yang senang menjudge. Semoga diantaramu ada yang bisa mengambil sisi baiknya.

Yes, sesuai judul, semester 8 ini aku ngerestart line sampai 2x, wkkwwk. Selain itu, tanggal 17 agustus kemarin, aku putusin buat archive semua foto instagram menyisakan 1 buah foto pantai. Di instagram juga aku ngeunfollow ratusan akun baik itu akun teman, kenalan, artis kampus, artis instagram, sampe artis ibu kota. Dan terakhir aku mendelete ratusan followersku, kecuali teman dekat dan saudara.

Tapi di post ini aku bakal sharing tentang pengalaman restart LINE dulu ya, hahaa.

20170819_151037

Bukan, bukan karna aku dikejar-kejar utang.

Bukan pula karena gangguan fans dan haters.

ALASAN PERTAMA:

Adalah karena keberadaan timeLINE sebagai salah satu fitur dari LINE. Gak ada yang salah dari kehadiran fitur ini. Setahun 2 tahun berlalu, its okay, gak ada masalah apa-apa. Privacy setiap posting curhatan masih berlaku hanya untuk teman saja, hingga pada akhirnya, muncullah fitur LINE terbaru di mana setiap postingan bisa dishare secara PUBLIC.

Awalnya aku terkagum-kagum dengan mereka yang berani mempublic pandangan mereka hingga dilike & share ratusan hingga puluh ribuan orang. Woww.. leh uga..kerenn..kece yah dia..

Itu awalnya. Lama-lama (maaf) aku  rada-rada geleuh….

Aku ikut organisasi eksternal dan posisiku sebagai contact person yang harus menjalin silaturahim dengan banyak orang. Ditambah dengan himpunanku yang sempat ikut suatu lomba yang menuntut jumlah likers sehingga aku harus menjapri bukan hanya temanku yang sudah jadi friend, tapi juga teman satu grup yang belum aku jadikan friend.

Settingan friendsku sudah kubentuk agar tidak diadd orang sembarangan hanya dengan menyimpan nomor HPku atau karena berada dalam satu grup yang sama, melainkan aku sendiri yang harus mengadd akun mereka melaui QR code atau ID Search.

Setelah menjadi pengguna LINE selama 3,5 tahun, jumlah friends lineku saat itu sebanyak ±1500-2000 orang dengan ±20-30 grup aktif. Angka friends ini murni aku yang ngeadd sendiri karena telah kusetting seperti itu.

Alhasil, notifku selalu penuh (notifmu juga pasti gitu, kan?). Bukan karena orang mencariku, tapi karena aku join grup yang mana isinya orang-orang yang terlampau senang bersosialisasi. Dan sialnya aku senang membaca. Waktuku habis untuk diam di depan HP, dari bangun hingga kembali tidur.

SEBELUM settingan public itu muncul, aku yang agak ekstrovert ini hampir tiap hari post stiker lucu2 di timeLINE beserta captionnya, apalagi kalo bukan buat curhat, hehee. Begitu pula teman-temanku. Dan ini menurutku merupakan hiburan sendiri. Bajak membajak gitu kan, curhat, its ‘still’ okay.

SETELAH settingan public itu muncul, mulailah terjadi penurunan moral anak bangsa kebaikandari  LINE yang selama ini aku dapatkan. Yang selalu muncul di timelineku dan sangat menarik untuk dibaca setiap harinya adalah mereka yang senang mempublic opini berbau politik seperti mengkritik rektorat, pemerintah, walikota, hingga yang saat itu yang sedang panas-panasnya, kritik untuk salah satu cagub/cawagub suatu provinsi. Menambah pengetahuanku tentang politik, sedikitt kwkwkw.

Sebelumnya mohon maaf bila ada yang tersinggung, tapi izinkan aku untuk bertanya satu hal mengganjal yang selalu ingin komen setiap kali seseorang posting tentang politik bangsa ini di aplikasi LINE:

Pertanyaanku: Mengapa kalian memilih berkoar-koar di LINE padahal pihak yang bersangkutan yang dikritik itu bahkan gak punya akun LINE?

Saranku: Mungkin lain kali tulisanmu itu bisa kamu kirim ke opini masyarakat di koran, atau setidaknya dishare di Facebook dan Kompasiana yang kini mayoritas sudah diisi oleh orang tua. Mungkin orang tua itu bisa menyalurkannya ke rekannya yang duduk di kursi pemerintahan.

Pesanku: Tak usahlah berkoar-koar di medsos untuk dipandang intelek, kawan. Dengan status mahasiswa saja ditambah mahasiswa ITB pulak, itu sudah cukup menjadikanmu intelek di masyarakat umum.

Tapi aku bersyukur masih ada mahasiswa yang berada dalam koridor yang benar, berani turun ke jalan, bertemu langsung dengan pemerintah, mengadakan rapat terbuka, dll. Ini baru namanya talk less do more. Walau ini bukan gue banget……. err…..

Dan aku bersyukur pula masih ada yang pengguna LINE yang senang berbagi kebermanfaatan. Masih ada yang terus mengingat hadist “BERKATA BAIK ATAU DIAM”.

ALASAN KEDUA:

Saat semester 6, aku memutuskan untuk tidak memaketkan internet di HPku. Harapannya adalah, produktivitasku meningkat, bahkan aku bisa berhemat sampai 100ribu/bulan, dan saat waktu sudah lengang aku bisa luangin waktu untuk baca chat2 mereka, kan sekarang di mana-mana ada WiFi, pikirku yang saat itu masih terlalu NAIF.

Namun.. ternyata aku salah.

Walau aku selalu berada di kampus sampai magrib, sayangnya, saat itu orang lebih senang kumpul di LINE daripada ketemu di kampus. Banyak informasi yang tertinggal selama aku tidak buka HP, termasuk salah satunya urusan kerja kelompok akademik.

Salah memang, berurusan dengan teman sekelompok yang tidak punya prinsip kerja ikhlas. Dengan teganya, tanpa meminta penjelasan dariku terlebih dahulu, aku langsung dicap yang aneh-aneh. Awalnya aku bodo amat sama judgers seperti ini. Namun, yang bikin aku sedih adalah, ah sudahlah….. :’) Mungkin mereka gak tau dan menolak untuk mencari tau tentang yang sebenarnya terjadi, juga mereka menolak untuk merasakan seberapa downnya aku setiap praktikum dimulai.

Kesimpulannya adalah:

WiFi ONLY IS THE WORST DECISION I’VE EVER MADE.

!!!Jangan pernah coba ini sekalipun di saat urusanmu sedang banyak!!!

Di akhir semester 7, dengan berakhirnya masa kepengurusan BP himpunan, dengan tujuan menyelesaikan masalah yang sama yaitu memperbaiki produktivitas hidupku yang acak, aku memutuskan untuk merestart LINEku dari 0. Berhubung tanggung jawabku di himpunan sudah beres, ditambah dengan aku akan memasuki semester 8, di mana matkul Tugas Akhir II penentu kelulusanku dimulai. Saat itu pastinya butuh manajemen diri yang sangat baik agar bisa lulus tepat waktu.

Aku pun restart lineku dari awal. Namun aku salah pilah pilih grup mana yang harus aku join ulang.

Tetot!!! Salah total. Apa bedanya? Notifku tetap penuh.

Alhasil ±1 bulan kemudian kembali aku restart lineku. Hehehee…

Hingga sekarang temanku <100 orang, dengan grup aktif <10. Hidupku indah~ :’D

Dengan aku merestart LINE, hanya mereka yang benar-benar membutuhkan yang akan menghubungiku di LINE. Betul betul? ^^

Dannn. Sudah berjalan >6 bulan sejak aku merestart LINEku, aku sama sekali tidak menyesal atas keputusanku kemarin. Not at all ^^

Dulu kalo dulu aku diamkan HP sebentar di rush hour notifku sudah sampai 999++. Sekarang tidak, aku tidak minat samsek untuk kembali ke grup lamaku dulu yang isinya gosip, main, dan hal-hal nirfaedah lainnya. Sekalipun diinvite aku decline. Wkwkwk. Hidupku lebih produktif dengan teman yang mendukung.  IPku pun naik, walau IPK segitu2 aja (sad).

Dan sekarang aku sangat2 berterimakasih kepada beberapa Official Account yang menjunjung kebermanfaatan, bukan sekte haters atau fans dari salah satu kubu.  Sehingga setiap kali buka timeLINE, yang kulihat ada sesuatu yang berfaedah, bukan hanya emosi dalam tulisan.

Sebenarnya ini masalah pribadiku yang sulit mengendalikan diri. Lebih tepatnya sulit untuk fokus. Ada cerita menarik buka, ada postingan kating yang kece, baca sampe akhir, ada nasihat petuah jumlahnya 2 halaman, aku baca juga ampe akhir. Kacau

Wkwkwwk

Sekian deh, kesimpulannya adalah: jika kamu merasa hidupmu tidak produktif, coba cek seberapa sering kamu buka media sosial. Karena ini masalah anak muda zaman sekarang. Btw, kemarin aku baru aja naik kereta dari gambir. Pas lagi nunggu kereta maju, ada kereta lewat di sebelah pelan-pelan mau parkir. Busett..!! di kereta sebelah itu nih ya, dari gerbong 1 sampai gerbong terakhir, aku liat dengan mata kepala sendiri, semua orang main HP!!! Sad.

Sekian, dariku yang mulai menghargai waktu (tapi tidak menuhankan waktu).

Wassalamualaikum Wr Wb

#3 Teman SMAku

Assalamualaikum Wr Wb

Masih dalam rangkaian kilas balik semester 8, kali ini aku mau cerita tentang salah satu bagian kelam di bulan Maret. Di awal bulan itu aku kehilangan salah satu teman baik yang pernah aku kenal, Rubii, V’13, TI’13.

Mmm. Di saat, mungkin, pastinya deng, masa SMA bagi most people adalah masa-masa paling indah gituu, paling berkesan, dan tentu masa yang pengen banget deh balik ke sana lagi deh pokoknya. Errr……. gak juga wkwkwk

Deskripsi teman-teman SMAku lebih kurang seperti ini:

Mereka berasal dari orang tua dengan ekonomi superior, wkwk. Bisa dipastikan dari satu angkatan hanya 0,5% anak dari kalangan menengah kebawah, keitung jari satu tangan deh, 10% dari kalangan menengah, dan sisanya menengah ke atas. Jangan heran kalo parkiran mobil selalu penuh, motor besar, cewek-cewek bening, parfum, salon, baju trendy, sepatu CONVERSE (aku sampai ngerti merek kan jadinya wkkkwk), Blackberry (zaman dulu orang pakenya HP blackberry), itu dimiliki oleh hampir semua teman-temanku.

Sudah terbayang ’wah’nya? Wkwkwk

Selama masa SMA itu ada satu pelajaran yang sangat berharga yang aku gak bakal bisa dapat kalo ternyata takdirku sekolah di tempat lain.

Tentang pertemanan.

True friends dont look at what you look like and what you have, guys.

Untukmu yang sekarang mengenalku, maafin aku kalo sampai kamu menemukanku terlihat sedikit pilih-pilih teman.. :’) Bukan maksud gak ingin mendekat, hanya aku takut bila kita terlampau dekat. Berkaca dari masa lalu, aku gak peduli latar belakangmu seperti apa, it doesnt interest me a lot.

Terimakasih Rubi, Camilia, teman sebangkuku Mutiara Kaffa, Punjul yang sering nemenin danus :’) , Seruni, Jehi, Uli teman ngambis edulab wkwk, Edelweis, Virli, Widi, Leonita, Ulfa, Karin, Megan, Ashtri :’) . Teman-teman terbaik versiku selama 2 tahun sekelas di 5, terimakasih banyak sudah sangat baik padaku ini…

Rubi yang pinter olahraga, temen les bahasa inggris yang down ketika tau nilai bahasa inggrisku lebih bagus wkkwkwkwkw, kecuali kalo speaking rubi lebih bagus pastinya, dan selain mata pelajaran bahasa inggris, sisanya rubi lebih jago dari aku lah wkwk.

Ada satu nasihat Rubi yang berkesan waktu aku bayarin angkot dia pas pergi ke tempat les bahasa Inggris, soalnya Rubinya susah ngambil receh 500 yang keselip di tas.

R: *beres turun dari angkot, lgsg bongkar tas* “Del bentar, nih 500nya!”

F: “Yaelah gak usah kali rub”

R: “Eh jangan gitu, duit 100ribu gak mungkin genap 100 kalo gak ada receh 500”

Dan utangmu lunas, rub. Hahaaa. Setiap kali Rubi gak masuk les karena alasan tanding basket, di situ ada ruang hampa di dalam kelas. Serius guys, aku selalu punya motivasi untuk jadi kayak rubi yang bisa hidupin suasana di kelas.

Sebulan lagi rubi ulang tahun, tapi yang namanya Doa gak selalu dikasih waktu hari ulang tahun aja kan. Al Fatihah buat Rubi, sekarang..

Sekian, wassalamualaikum Wr Wb

20170818_082952_20170818084013676

#2 Muzammil Nikah

Assalamualaikum Wr Wb

Cerita ini termasuk salah satu cerita absurd semester 8. Khusus yang satu ini, AKHWAT ONLY. I believe on you. Cek lagi jenis kelaminmu, ya.

Ramadhan tahun ini tepatnya di bulan Juni. Kala itu sekitar seminggu sebelum sidang kompre menuju sarjana, kita geng-geng biokim lagi belajar bareng supaya lulus bareng walau akhirnya kuliah lagi sampe tahun depan. Vani tiba-tiba memecah kesuntukkan.

“GUYS MUZAMMIL NIKAH, ADA UNDANGANNYA”

Kata temanku Vani setengah teriak sambil megang tablet. Pasti dia buka instagram. Sontak teman-temanku kaget. Mbak-mbak di depan kamipun ikut kaget.

Tak sampai menit kemudian belajar bareng pun selesai tanpa penutup. Semua teman-temanku memilih untuk pulang ke kosan masing-masing. Supaya bisa main internet lebih tepatnya. Sepertinya mereka ingin buka instagram juga seperti Vani, hanya kuota mahal dan kala itu WiFi labtek 6 sedang mati.

Seminggu sebelum launching pernikahan abang muzammil, sebenarnya ada cerita geli sesudah solat taraweh. Pelakunya yaitu Aku yang diem aja (FL – fladellatata), Mama (MA), tetanggaku Bu Jaya (BJ), dan Tatri (TATRI), kakakku, korban ghibah.

BJ : Bu Idwar, besok lusa solat tarawehnya di Mesjid Muhajirin aja yuk, imamnya hafiz, terkenal, masih muda, katanya alumni itb

MA : Oh si muzammil ?

BJ : Iya muzammil

MA : Teman anakku itu, satu jurusan sama si Tatri, anak arsitek itb juga, dulu pas tatri masih kuliah S1 dia pernah berkali-kali main ke rumah saya lo, sama temen2nya yang lain, makan-makan di rumah

BJ : Oh gitu? Subhanallahhhh!! Seneng ya punya teman kayak muzammil, , sebaya, sama-sama arsitek lagi ya? Cocok tuh bu sama si tatri !

MA : Ah, si tatri jangan sama yang seumuran, carinya yang lebih tua

BJ : Yaudah, sama Adel aja kalo gitu muzammilnya, kan udah mau lulus kuliah tuh bentar lagi, dapet hafiz, subhanallah masa depan terjamin lo Bu Idwar !!

FL : *KALO U TAU SIAPA MUZAMMIL, GUE YAKIN U IKUT NGAKAKKKKKKKK DALAM HATI WKWKWKWKWK*

Sama Adel aja

Sama Adel aja

Sama Adel aja kalo gitu, muzammilnya

Adelia & Muzammil. WKWKWKWKW. -_____-

Andai hidup kita ini seenteng suruhan Bu Jaya ke emak ku tadi.

——————-

Aku gak patah hati seusai tau abang muzammil nikah sama mbak sonia. Toh gebetanku bukan beliau. Jadi hari patah hati sedunia akhirat (ini siapa pula yang bikin) gak berlaku untukku. Hehe. He he. HEHEHEE.

Di satu sisi aku ingin giring opini. Tentang keherananku, kenapa sih? Ada aja ukhti-ukhti jomblo yang patah hati karna muzammil?

Kan, kalo tujuan hidup adalah surga, maka ketika sudah menikah, surga seorang perempuan ada pada ridho suaminya. Surga seorang suami akan selalu berada pada ridho ibundanya. Dan selain amal dan ilmu yang bermanfaat, yang bisa membawa ke surga adalah anak yang soleh/soleha.

Am I wrong?

Menurutku, yang seharusnya cemburu itu bukan kalian ukhti-ukhti jomblo, tapi seharusnya ukhti-ukhti yang sudah beranak seperti emak ku dan Bu Jaya tadi. Emak ku dan bu jaya seharusnya cemburu dengan ibunya abang muzammil. Gimana caranya seorang ibu bisa bikin anaknya selain jadi hafiz, itebek pula. Insya Allah anak soleh bisa bantu ibunya masuk surga. Aamiin.

Btw, kata Kak Ega, S.T mentor terbaik bangsa, perempuan memang dipermudah jalannya untuk masuk surga.

“Bila seorang istri telah mendirikan solat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, Silakan engkau masuk surga dari pintu manapun yang kau suka” (H.R Ahmad, dll.)

Jadi konklusinya adalah, punya laki soleh emang idaman, tapi selama yang soleh itu suaminya dong tapi kamunya enggak, why should broken heart? Yang sebenarnya broken heart itu ya ortumu, sapa yang bantuin mereka masuk surga 😦

Sekian cerita ngalor ngidul malam ini.

Dariku yang udah terlanjur banyak buat dosa. Rasanya tak mungkin masuk surga tapi juga tak mau sekali masuk neraka. Bukan karna pengen dapet laki soleh, tapi karna pengen dapet Ridho Allah supaya masuk surga.

Wassalamualaikum Wr Wb

Muzammil

#1 Peka dan Perasa

Assalamualaikum Wr Wb

Bicara tentang hati manusia. Ada satu fitrah perempuan yang sebenarnya aku sendiri gak suka tapi di sisi lain yang gak kalah besarnya, sifat ini juga sangat menolong: Peka dan Perasa. Misal, seorang anak perempuan bisa saja belanja jilbab trendy tiap minggunya andai saja tidak memikirkan perasaan ortunya yang susah payah mencari nafkah untuk pendidikannya, bukan untuk gaya2an.

Di sisi lain, terkadang, menjadi orang perasa itu berarti siap membodohi diri sendiri, dengan mengorbankan peran untuk menstabilkan sistem. Misal, seorang ibu muda dengan latar belakang pendidikan mumpuni rela meninggalkan pekerjaan kantorannya demi memberi perhatian khusus dan ASI ekskulisif kepada bayinya selama 2 tahun.

Dalam kehidupan berkelompok, menurut pengalamanku, suatu kelompok tanpa orang perasa di dalamnya akan baik-baik saja, asal setiap individu di dalamnya dewasa dalam berfikir.

Menurut pengalamanku juga, suatu kelompok yang mana seluruhnya adalah orang perasa justru bukanlah kelompok yang baik. Keputusan pendapat dalam kelompok akan sangat sulit untuk didapat karena terus mempertimbangkan antara memenangkan ego pribadi atau perasaan teman masing-masing.

Contohnya, seorang teman sebut saja namanya dianita janjian dengan temannya yang bernama Adel. (loh jadi gak disensor? hehe?).

Dianita dan Adel keduanya adalah perempuan dengan feeling. Saat itu pukul 9 pagi, Adel sedang ngelab dan dianita sedang mengurus urusannya (lupa beb, wkwk). Dianita dan Adel janjian via line untuk bertemu pukul 10.00. Adel buru-buru menyelesaikan urusannya agar bisa selesai pukul 10.00. Setelah semua urusan selesai tepat pukul 10.00, Adel kemudian mengecek line, lohe? kok si dian gak ngechat apa-apa? Adel berfikir, oh mungkin dia belum beres urusannya. Sampe pukul 10.30, dianita tak kunjung ngechat, sehingga Adel berspekulasi kalo Dian masih sibuk dengan urusannya sehingga jangan diganggu dulu. Jadilah Adel membantu temannya yang lain yaitu Najmi bagi-bagi nasi di depan GKU timur sampai jam 11.30. Selesai bantu Najmi, Adel kembali melihat line, ternyata ada pesan dari dianita pukul ±11.00.

“Del, di mana? Aku nunggu di musholla SF.”

Adel langsung pergi ke musholla SF. Sesampainya di sana, Dian bilang bahwa dirinya udah nunggu dari jam 10.00 :((

Ya, beginilah yang akan terjadi bila dalam suatu kelompok terdiri dari individu yang saling peka dan berujung pada kesalahpahaman. Padahal tidak ada salahnya saling ngeline untuk menerror, andai saja perasaan tidak enak itu tidak dimiliki salah satu diantaranya. Saling menunggu namun tidak saling tahu. Sad 😦

Kesimpulannya adalah, orang perasa tidak bisa selamanya bersama dengan orang perasa lagi. Bukan karena tidak cocok, namun tidak saling melengkapi. Orang tidak perasa boleh jadi bersama orang tidak perasa lagi, asal keduanya dewasa dalam berfikir (tidak ada yang keras kepala). Dan orang peka dan perasa, akan lebih baik bila bersama dengan orang yang tidak peka dan tidak perasa (dalam batas yang gak kelewatan juga sih wkwk), walau terkadang menyebalkan tapi justru yang seperti ini yang bisa melengkapinya.

Post ini adalah post pertama (#1) dari rangkaian cerita absurd semester 8. Sebenernya ingin #throwback kenangan bareng si beb dian sebelum berangkat ke Jepang. あなたがいなくて寂しいです (pake google translate, bener kagak? wkwk). Tunggu rangkaian cerita selanjutnya besok! Hehe (moga ada yang baca selain u sis (ilma). wkwk.

1488807655268

P.s: Muka lu udah cukup gelap beb di sini, gak usah disensor lagi yak wkwk.

Wassalamualaikum Wr Wb