Selama Hidup Kita Belajar

  1. Belajar solat tepat waktu seusai adzan berkumandang
  2. Belajar rutin mengaji setiap hari
  3. Belajar mengatur waktu antara belajar, bersosialisasi, bermain, beribadah
  4. Belajar untuk selalu mengambil pelajaran setiap momen
  5. Belajar terus memahami apa yang diberi tahu dosen
  6. Belajar untuk tidak tidur sebelum belajar
  7. Belajar membagi waktu antara pelajaran besok dengan belajar Tugas Akhir
  8. Belajar mendengar pendapat orang lain
  9. Belajar tidak berbicara yang menyakiti hati orang
  10. Belajar tidak berprasangka buruk ke orang lain
  11. Belajar selalu mendengar perintah orang tua. Ridho Allah ada di ridho orang tua
  12. Belajar untuk tidak selalu ingin dipahami orang
  13. Belajar berbicara depan dosen
  14. Belajar berbicara depan umum
  15. Belajar konsentrasi
  16. Belajar fokus
  17. Belajar selalu bersyukur setiap saat
  18. Belajar percaya pada diri sendiri

Belum bisa? Dont worry. Belajar ini gak ada deadlinenya, belajar selama masih diberi waktu untuk bernafas 🙂

i-am-strong-i-am-kind-i-am-beautiful-i-am-smart-i-am-important-i-am-fearless-i-am-amazing-quote-1

Novel Matahari, by: Tere Liye. Sebuah Resensi.

Assalamualaikum Wr Wb.

Malam guys. Sudah sebulan ini, banyak sekali yang sedang kupikirkan. Tugas, tingkat akhir, topik TA (skripsi), dosen pembimbing, buku referensi TA, ditambah kebutuhan banyak wkwk. Alhasil, aku menjadi galau akan pengeluaran yang tidak sebanding dengan pemasukan ini. Ketika galau, seperti biasa, aku mencari pelarian, di dunia maya, karena doi hanya bisa kutemukan di dunia maya. Siapakah dia? Bapak Darwis, Tere Liye, dengan kalimat-kalimat manisnya. Semakin galau aku, semakin banyak kalimat yang kubaca. Hingga halaman facebook bapak Tere Liye aku scroll terus sampai ke bawah, karena tak pernah membosankan. Pada akhirnya… aku tercengang beberapa detik.

lomba-1

Eng Ing Eeenngggg.. Alhamdulillah, doaku dikabulkan-Nya. Ada lomba resensi berhadiah voucher gramedia dan sepaket buku! Hahaha. Adrenalinku membara. Pokoknya harus ikuut! Semoga diberi rezeki oleh Allah S.W.T. aamiin ^_^

Masalahnya adalah,

khusus novel Matahari, aku gak punya 😦

img_4315

Ini perpustakaan kecil rumahku. Rak di atas hanya 1/4 bagian dari ukuran rak yang sebenarnya. Dan rak itu sebesar itu ada 2 di rumah. Dan, dua-duanya penuh. Alhamdulillah.. Punya saudara kutu buku. Wakakkak 😀

img_4317

1/10 bagian dari rak itu.. dikhususkan untuk novel Tere Liye. Ya, bapak punya 1/10 bagian dari hati saya. #astagfirullah #bapak #sudah beristri #hampura

Orang rumahku semuanya menyukai novel Tere Liye. Kalo pergi ke Palasari, kalo gak nyari buku farmasi, buku arsitek, ya nyari novel Tere Liye hohoho. Tapi… teringatlah aku, bahwa kini sudah akhir bulan. Ditambah pada bulan Oktober ini, kakak-kakak tingkatku banyak yang wisuda. Alhasil, semakin sering diaduk, viskositas uang semakin kecil, semakin mudah mengalir 😦 #naon #huhu

THEN,

tiba-tiba, salah satu adik tingkatku, namanya Mitha, mengizinkan novel Mataharinya untuk aku baca sebentar. Hwaaa. Aliran uang pun terhenti. Terimakasih Mitha! ❤

Kembali ke inti 😀

——RESENSI——

img_4318

Ini cover novelnya..Gimana? Lebih bagus cover novelnya? atau bed cover latar belakangnya? hehehee #crunchy.

img_4319

Ini isi novelnya.. Semua novel Tere Liye gak pernah absen ngasih pembatas buku 😀

Okeee, bentangkan layarnya kembali kapten!

——

Judul Novel: Matahari

Penulis: Tere Liye

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Tahu Terbit: 2016

Tebal: 397 Halaman

Harga: Rp 82.000,00

——

SINOPSIS

Ada 3 hal yang paling aku sukai di dunia ini yaitu Matahari, Bulan, dan Kamu. Matahari untuk siang hari, bulan untuk malam hari, dan kamu untuk selamanya 🙂 #gombal.

Eitsss gak gitu xD Hahaha, untuk kali ini novel Tere Liye bukan lagi tentang romance-romance galau, bukan. Kali ini, Tere Liye menyentuh hati gue melalui cerita fantasi. Gak kalah menarik.

Pak Tere a.k.a Darwis, kini bikin novel fantasi tentang petualangan anak remaja. Mereka adalah Ali, Raib, dan Seli yang ceritanya baru masuk SMA. Mereka ini bukan anak biasa, mereka luar biasa. Punya kemampuan hebat!

Ali, seorang remaja tokcer yang encer banget otaknya, super jenius, hobinya ngeLab, tapi Ali bukan anak farmasi x_x wkwk, Ali mungkin akan menjadi anak Mesin, atau menjadi anak Elektro suatu saat nanti, karena Ali senangnya ngotak-atik teknologi mutakhir, sampai bisa bikin teknologi sendiri. Teknologi buatan Ali yang paling berpengaruh pada novel Matahari adalah: Ily, bukan, bukan Ily almarhum teman Ali dkk, Ily ini adalah nama dari suatu kapsul yang dibuat Ali untuk menemani petualangan menuju Klan Bintang (yahh,keceplosan). Dan, yang bikin cerita ini menjadi seru adalah, Ali bisa berubah jadi Beruang! Ukurannya sebesar lapangan basket. Hii

Raib, seumur dengan Ali. Kemampuannya adalah menghilang! Dengan cara berpindah tempat secepat kilat sehingga terlihat seperti menghilang, seperti teleportasi. Selain itu, Raib dapat membentuk gelembung tameng. Tameng ini bersifat hidrofobik (…..haha) karena mampu melindungi diri Raib atau siapapun yang dikehendakinya dari serangan yang datang, termasuk serangan hujan. Tapi, tameng ini dapat hancur bila diberi energi yang tinggi seperti listrik atau petir.

Seumuran dengan Ali dan Raib, namanya Seli. Ali, Raib, dan Seli ini sesungguhnya adalah anak-anak “luar angkasa” yang tinggal di Bumi dan dipertemukan dalam satu sekolah. Kemampuan Seli adalah menghasilkan listrik dan petir! Dengan demikian, Seli gak usah bayar PLN (hohoho). Btw, gue semakin yakin pasti di daerah kosan temen2 gue tu, di Cisitu, gak ada nih anak2 ajaib kayak gini. Kalo ada, pasti gak bakal pernah mati lampu 😦 hahah. hmm

Novel Matahari ini bersequence gituu. Sebelum Matahari, ada novel Bumi dan Bulan. Fokus dari novel Matahari adalah Ali. Pada novel Bumi, lebih banyak bercerita tentang Raib. Sementara pada novel Bulan, fokus ada pada Seli.

Ali, termasuk golongan orang berdarah biru (orang kaya) yang bahkan dalam rumahnya ada Lab. Jadi gak usah jauh-jauh ke kampus untuk TA. (bukaan, bukan gitu Del haha x_x). Lab itu berada di bawah tanah. Kamar Ali ada di Lab itu juga. Jadi sebelum dan sesudah tidur Ali selalu ngeLab (cukup Del x_x). Ali ini orangnya sangat suka membaca. Oleh karena itulah, Av, temannya saat berpetualang di klan Matahari, memberikannya suatu flashdisc kapasitas dunia akhirat (oke, ini sangat hiperbolik) yang isinya seluruh ilmu pengetahuan dunia pararel.

Kadangkala aku gagal, menemui jalan buntu, tapi aku tidak akan berhenti. Karena aku menyukainya, passion, hobi, mimpi-mimpi, semangat entah apalagi yang tepat untuk menggambarkannya.

– Ali, 15 Tahun. 🙂

Namun,

mengenai Klan Bintang, sedikit sekali data mengenai Klan tersebut. Karena memang Klan Bintang dianggap legenda dan minim informasi tentang di mana lokasi klan ini sebenarnya. Adrenalin Ali membara –persis seperti aku ketika mengetahui Gramedia mengadakan lomba resensi, wkwk— Ali semakin bersemangat untuk mencari tahu di mana klan ini sebenarnya. Raib tidak mau menggunakan kekuatan teleportasinya, karena Raib amanah terhadap pesan Miss Selena yang diberikan padanya (untuk tidak menggunakan kemampuannya tanpa tujuan sebenarnya). Alhasil, ketiga sejoli ini harus melewati lorong-lorong kuno, ular, kelelawar, hingga pada titik akhir perjuangan di mana mereka bertiga hampir menyerah melawan hewan-hewan tersebut. Beruntung, serombongan prajurit klan Bintang datang dan menyelamatkan mereka.

Finally, Ali, Raib, dan Seli, tiba di Klan Bintang!!

Loohh. Ceritanya gak cuma sampai sini saja woii haha. Di Klan Bintang, mereka bertiga dianggap sebagai ancaman dan harus dimusnahkan.  Kemampuan dan teknologi yang Ali miliki saat itu tidak cukup bila tidak disertai dengan kecerdikan dan solidaritas timnya. Apalagi, di tengah perjuangan, Seli terpisah dari Ali dan Raib. Lebih apesnya lagi, buku legendaris milik Raib juga menghilang! :(( Ke manakah Seli? Di mana buku kematian Raib? Di sinilah puncak dari novel Matahari ^^

Ya ya ya. Penasaran??

UNSUR INTRISIK NOVEL

  1. Tema: Fantasi
  2. Latar Belakang: Klan Bumi, Klan Bulan, Klan Matahari, Klan Bintang
  3. Waktu: Sepanjang hari.
  4. Suasana: Menegangkan, mengharukan
  5. Alur: Maju mundur
  6. Gaya Bahasa: Mudah dimengerti pembaca
  7. Amanat: Hidup ini adalah petualangan. Semua orang memiliki petualangannya masing-masing, maka jadilah seorang petualang dengan melakukan hal terbaik.
  8. Penokohan: a. Ali; jenius, optimistis. b. Raib; solid, peragu, cekatan c. Seli; solid, baik hati, penakut.

KELEBIHAN

  1. Novel ini cerdas. Seperti novel Tere Liye lainnya, terdapat unsur ilmu pengetahuan di dalamnya, membuat pembaca akan mengucapkan “Oo ternyata gitu ya!” Well Play, bapak Darwis, well play 😀
  2. Kalimat yang digunakan simpel dan mudah dimengerti
  3. Imajinatif, sehingga tidak membosankan
  4. Mengajarkan fungsi sesungguhnya dari persahabatan 🙂 #friendship #goals

KEKURANGAN

  1. Masih terdapat kata-kata typo pada cetakan ke 2.
  2. Nama tokoh angkasa luar cenderung aneh dan terlalu imajinatif.

Sekian resensi Novel Matahari dari saya. Semoga bermanfaat bagi pembaca yang sedang memilih-milih novel untuk dibaca. Novel Matahari recommended gan!

Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Wassalamualaikum Wr Wb

Halo, kak

Allah mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya untuk sesaat atau untuk selamanya. Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik diwaktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia karena Allah yang mempertemukan

Negeri Tiga Matahari

Jadi cerita ini rencananya mau gue lombain. Tapi, malah ngumpulinnya lewat batas tenggat waktu pengumpulan. Deadliner emang 😦 Aku post di sini saja hahaha

NEGERI TIGA MATAHARI. 

Oleh: Adelia Sri Wartami/Institut Teknologi Bandung

Katanya, bila mimpimu tidak sampai membangunkanmu sebelum matahari menjulang di balik raksasa biru, berarti mimpimu tidaklah besar.

Subuh itu, aku yang orang-orang bilang seperti kebo ini bangun sangatlah cepat, lebih cepat dari ibu-ibu penjual sayur di pasar, termasuk bapak supir angkutan umum yang membawa ibu penjual sayur ke pasar, bahkan nyamukpun tidak sampai jadi menggigit kulit  betisku karena gerak cepatku menuju kamar mandi. Ya, di hari itu, dan juga di hari-hari sebelumnya, aku sangatlah bergairah. Bukan karena habis menang olimpiade, bukan pula karena sedang jatuh cinta. Hari itu, untuk pertama kalinya aku akan menapakkan kaki dan menghirup udara tempat almarhum kakak nenekku merantau dan membangun peradaban. Palu, Sulawesi Tengah.

Bagi orang minang sepertiku, merantau adalah lumrah yang dilakukan oleh sebagian pria bahkan wanita untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Pepatah minang berkata, nan satitiek jadikan lauik, nan sakapa jadikan gunuang, alam takambang jadikan guru. Artinya, yang setetes jadikan laut, yang segenggam jadikan gunung, alam terkembang jadikan guru.  Tidak heran bila di hampir setiap sudut Indonesia ada orang minangnya. Begitu pula kakekku itu, merantau ke kota yang sangatlah jauh dari tempatnya dilahirkan dan dibesarkan. Pekerjaannya adalah pegawai negeri, yang ditugaskan menjadi guru sekolah dasar di Tinombo, suatu daerah sejauh 7 jam perjalanan darat dari Ibukota Palu.

Garis keluarga ayah dan ibuku hampir semuanya adalah perantau. Jakarta, Medan, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Ambon, Sorong, Kupang, dan kota-kota lain, hampir semua kota di Indonesia ini lengkap. Ayahku sendiri merantau ke Bandung. Hingga lahirlah aku, kakakku, dan adikku. Kami semua memiliki nama belakang Wartami (warga tabek Minang), agar tertanam di hati kami bahwa sebenarnya kami orang Minang, bukan orang sunda. Alhasil kami semua tumbuh mengaku sebagai orang minang, tapi logatnya sunda.

Aku berangkat ke Palu sesungguhnya bukan dengan tujuan ingin melihat-lihat kota Palu. Tujuanku pergi ke Palu sebagai delegasi BEM untuk mengikuti suatu acara musyawarah nasional mahasiswa farmasi seluruh Indonesia. Karena sejarah keluarga yang kuceritakan tadi, Palu termasuk dalam catatan mimpiku yang harus tercapai before death come. Akhirnya kucoba melakukan apapun agar ongkos pergi ke Palu terkumpul. Kukabari orang tuaku, nenekku, paman-pamanku, tante-tanteku, agar mendapat dukungan financial. Kukabari pula saudara-saudaraku di Palu bahwa aku akan mengunjungi mereka dalam waktu dekat. Mereka sangat senang mengetahui ada keluarga dari Bandung yang akan berkunjung.Ya, tentu mereka senang

—–Beberapa minggu kemudian, perpisahan di bandara————–

Detik-detik itu, setelah haru biru salam perpisahan dengan seluruh saudaraku, sadarlah aku akan sesuatu. Benar yang diceritakan ibuku. Tentu saja mereka senang aku datang. Karena tidak ada satu orangpun kerabat yang pernah berkunjung ke tempatnya. Aku yang pertama.

————————————————————

Perjalanan menuju Sulawesi Tengah cukup melelahkan, walau sebenarnya aku hanya duduk-duduk saja. Sejak berada di pesawat, hawa-hawa kota Bandung lenyap sudah. Tetangga di kursi depan, belakang, kanan, kiri, semuanya berlogat Bugis Sulawesi, khas sekali terdengar, bahkan adik kecil yang duduk di depan bangkuku pun sudah sangat kental logat bugisnya, lucu sekali aku mendengarnya karena telingaku yang terlanjur nyunda.

Pesawat transit di Makassar. Langit cerah menyambut kedatangan singkatku di bandara Sultan Hassanudin. Orang Makassar turun semua, termasuk adik kecil tadi, diganti dengan orang asli Palu, bersama dengan teman-teman farmasiku dari berbagai kota di Indonesia, pindah ke pesawat yang aku tumpangi karena transit juga di Makassar. Semakin Palu suasana di dalam pesawat, karena sepertinya orang-orang tersebut hendak pulang kembali ke kampungnya di Palu setelah jalan-jalan di Makassar, terlihat dari barang bagasinya yang bercirikan oleh-oleh khas Makassar. 1 jam perjalanan dari Makassar, dari atas pesawat kulihat daratan berwarna hijau, cokelat dan abu-abu. Warna hijau itu pepohonan, warna coklat itu sepertinya gunduk-gunduk pasir, sementara warna abu-abu itu aku tidak tahu apa, mungkin bekas abu vulkanik? Entahlah, yang pasti suasana kering itu terlihat. Beberapa menit kemudian pesawat yang kutumpangi landing. Saatnya aku turun dari pesawat. Baru 1 menit aku menapakkan kaki ini di Bandara Sis Al Jufri Palu, kulitku langsung menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan mengeluarkan peluh keringat. Amboi, suhu kota ini fantastis sekali. Selamat datang di Negeri 3 Matahari.

Setelah mengambil koper dan oleh-oleh Bandung untuk sanak saudaraku di Palu, aku disambut oleh beberapa mahasiswa dari Universitas Tadulako. Selfie dululah aku di bandara ini, juga meminta LO untuk memotret diriku. “Sudah betul?”, ujar mahasiswa Tadulako itu. “Hah? Betul…?” Ujarku dalam hati. Aku jadi merasa tidak enak karena seolah-olah foto yang dihasilkan harus seperfect itu. “Gak apa-apa kok mbak, ini juga sudah bagus”. Beberapa hari menginap di Palu barulah kusadar bahwa maksud betul di Palu itu artinya Mantap/Bagus/Oke!. Hal serupa yang kuamati selain itu adalah penggunaan kata saya, hanya dengan bilang sa tanpa ya. Lalu ba yang artinya imbuhan ber-. Ternyata bahasa Indonesia versi sunda dan minang berbeda dengan bahasa Indonesia versi Palu.

Musyawarah nasional mahasiswa farmasi seluruh Indonesia ini dilaksanakan selama 8 hari 7 malam. Aku tidak sekamar dengan orang Sulawesi sih, aku sekamarnya dengan Imas dari Jawa, Aas dari Tasikmalaya, dan Luthfiya dari Kalimantan. Logat medok, nyunda, nyunda keminang-minangan, dan Kalimantan yang tidak berlogat menyatu lucu di kamar kami menginap. Apalagi saat rapat berlangsung, seluruh mahasiswa farmasi berbagai daerah di Indonesia berkumpul di satu ruangan. Semakin pintar otakku menebak-nebak daerah asal mereka, cukup dengan mendengar logatnya saja. Ada yang keras, lembut, hingga mendayu-dayu. Perjumpaan singkat yang sangat berkesan. Kutulis sepucuk kalimat ini pada caption instagramku, sebagai ungkapan betapa bersyukurnya aku menjadi bagian dari mahasiswa farmasi Indonesia:

Musyawarah Nasional Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia. Kami mengenali, belajar, bermimpi. Adat dan budaya melebur, perbedaan bukan masalah. Emosi, kecewa, tertutupi oleh harapan yang besar. Jangan sampai kita hidup santai mati selow, ya? Terimakasih banyak, kakandaku dan adindaku. Memorinya sangat terekam baik di kepala ini sampai susah move on.

Di sela-sela Munas, aku bertemu dengan sanak saudaraku. Mereka rela menempuh perjalanan 7 jam hanya untuk bertemu denganku. Terharu. Untuk pertama kalinya aku bertemu dengan tante Jut, tante Neng, tante Butet, kak Aci, Upik, Indah, Bintang, Kak Angga, Kak Wati, Om Jang, Nayla, Kak Dian, Fatna, Kak Mizwar, dan saudara-saudara wartami cabang Palu lainnya. Malam itu, aku dibawa keliling-keliling kota Palu. Mulai dari Jembatan Kuning kebanggaan masyarakat Palu yang membelah teluk Palu menjadi 2 bagian, dilanjutkan dengan makan-makan santai di pinggir pantai. Orang Palu bilang minuman itu saraba, menurutku itu sih bajigur, kalo di Jawa itu sih wedang jahe. Untuk makanannya, sepupuku Fatna mengajakku makan Kaledo. Kaledo adalah semangkok besar daging dan lemak sapi yang masih menempel bersama tulangnya. Disajikan panas-panas, ditambah bawang goreng khas Palu dan nasi seporsi bapak-bapak, membuatku kalap. Mengetiknya saja sudah bikin aku ngiler.

7 malam aku tidur tidak teratur, mataku yang berkantung semakin berkantung. Namun panitia Munas ternyata seperhatian itu, di hari terakhir sebelum kembali ke Bandung, aku mengunjungi primadonya Palu. Pantai Tanjung Karang. Terletak di sebuah daerah bernama Donggala, berjarak sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat kota Palu. Persediaan tenagaku yang sudah banyak terkuras, terbayar sudah di akhir cerita. Pernahkah kamu jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku pernah. Lebih kurang perasaan seperti itu yang kurasakan ketika melihat pesisir pantai Sulawesi ini. Rasanya seperti ibu yang 10 tahun tidak bertemu putri kandungnya. Perasaan suntukku hilang seketika. Ombaknya santai sekali, tenang. Dan yang paling kusuka, pantainya sepi. Sejauh mata memandang hanya ada kami, anak-anak Munas, dan beberapa orang bule. Untuk pertama kalinya aku snorkeling, biasanya aku tidak tertarik snorkling karena kondisi pantai di pulau Jawa tidak ada yang berhasil menggodaku untuk snorkeling. Terumbu karang, bingkai gunung di batas antara ujung pantai dan matahari terbenam, laut yang hijau dari kejauhan, sangat jernih dan bening saat ditapaki. Entah karena aku orang gunung yang udik melihat pantai pasir putih nan hijau, entah memang Pantai Tanjung Karang ini bikin orang udik karenananya. Subhanallah

Keesokan harinya aku pulang ke Bandung. Wartami cabang Palu sebagian sudah kembali ke Tinombo, setelah menitipkan oleh-oleh khas Palu, kue-kue buatan Tante Jut, dan beberapa amplop untukku dan nenekku. Bukan surat, isinya lembaran kertas kakap dari Bank Indonesia, hehe. Terimakasih banyak tante Jut, Tante Neng, Tante Butet. Pesawat take off. Kali ini suasana Bandung yang terasa, isi pesawat orang Bandung yang habis berlibur semua. Tidak ada lagi hawa-hawa panas, kaledo, pantai hijau, saraba.

Banyak hikmah yang kudapat dari kunjunganku ke Palu. Ini salah satunya.

Pernahkah kamu disuruh dosenmu untuk pergi ke luar negeri? Aku pernah. Betul, tujuannya adalah untuk melihat dunia, karena di luar sana teknologi sudah canggih, gedung-gedung megah, pendidikan yang mungkin lebih baik. Aku pernah mendapat kesempatan itu. Lantas setelah membandingkannya dengan kunjunganku ke Palu, apakah aku semakin mendukung dosenku itu? Ya, dosenku benar, kita memang sudah seharusnya mengunjungi negeri orang untuk melihat dunia, karena dengan cara itu, kita baru bisa menghargai negeri sendiri. Bila katanya Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, maka Indonesia diciptakan ketika Tuhan sedang tertawa bahagia. Pantai ada, gunung ada, bukit, sungai, danau, adakah alam apa yang negara lain punya, namun tidak dimiliki negara kita? Negara ini kaya. Kaya sekali.

Semut di ujung pulau terlihat, gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Palu menyadarkanku banyak sekali keindahan Indonesia yang tidak tampak ke permukaan. Pak Soekarno bilang, biarlah kekayaan alam kita tersimpan sampai nanti putra putri Bangsa mampu mengolahnya sendiri. Aku bagian dari putra-putri Indonesia. Mungkin saja aku atau kamu ditakdirkan Tuhan untuk mewujudkan cita-cita bapak Soekarno. Saat ini yang dibutuhkan hanya kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, mata yang menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekat yang seribu kali lebih kuat dari baja, hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang lebih sering berdoa by: 5 cm. Bukankah mutiara didapat bila berani terjun di lautan yang dalam? Semangat, aku dan kamu, generasi muda Indonesia!

((emang kamu siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

((bukan siapa-siapa))

Gak usah berharap difollback :(( , huhu.